Pada lutut yang tertekuk aku berdoa
menuang sisaku pada-Nya,
bagai anggur tak terteguk aku tumpah
dijilati dingin lantai musholla
sujudku kaku
dan dzikir tak terbaca
pada bibir gelas aku basah
dilumat doa berbuka
angin di tubuhku menghijau
dan tahajud jadi cuaca
di langit tertidur kesah:
tak mampu menembus rakaat keduapuluhtiga
bimasakti meletus dan jadi hujan
dalam rintiknya menjentik alam raya
debu kosmik menetes pada jam pasir
menjelma detik-detik menjelang imsak
dalam kesiapnya mengalun hempas
jaman membatu
aku terbangun
dan pada lutut yang tertekuk aku mendoa
bertuang lelahku pada-Nya.
8.21.2011
8.19.2011
HILANG
Di jam-jam kamu bergelut dengan amaranth
kantuk merayapi dingin
dinding memoles lelah cermin:
namaku di kulitmu hilang
dan subuh tertera pada angin
kemukus turun di gerbang oblivion
waktu kamu berhenti menangis
pasar mengangkasa
dan hari melingkarimu bergelas coklat panas
pasir basah pasai pada samudera
layar berkelindan dan pasat
tersimpan di bubu
dan aku mencarimu di taman-taman tandus,
namaku di kulitmu dingin
mawar-mawar pucat
bulan gemetar
doa-doa gersang
namaku di kulitmu hilang
dan subuh tertera pada angin.
kantuk merayapi dingin
dinding memoles lelah cermin:
namaku di kulitmu hilang
dan subuh tertera pada angin
kemukus turun di gerbang oblivion
waktu kamu berhenti menangis
pasar mengangkasa
dan hari melingkarimu bergelas coklat panas
pasir basah pasai pada samudera
layar berkelindan dan pasat
tersimpan di bubu
dan aku mencarimu di taman-taman tandus,
namaku di kulitmu dingin
mawar-mawar pucat
bulan gemetar
doa-doa gersang
namaku di kulitmu hilang
dan subuh tertera pada angin.
Label:
air sunyi,
inside my head,
puisi
| Reaction: |
8.17.2011
LEPAS II
Salahmu sendiri,
di langit jauh angin telah membisik
dan kau enggan acuh
kau bilang biar saja ia melipur lazuardi
lewat sunyi yang ditiupnya pada seruni
kau bilang tak peduli
makanya aku ok saja
dan waktu kamu bertanya pada anak tk
tentang akor lagu yang dulu
khidmat kita lantun
ketika hati terbakar cemburu, aku ngelindur
tak lama aku buka google dan gigapedia
lalu kutulis di sana sejumlah kata arkais
yang kita lupa dari sejarah perjumpaan yang kahat,
dan kutemukan sebuah buku tanpa nama kita.
di langit jauh angin telah membisik
dan kau enggan acuh
kau bilang biar saja ia melipur lazuardi
lewat sunyi yang ditiupnya pada seruni
kau bilang tak peduli
makanya aku ok saja
dan waktu kamu bertanya pada anak tk
tentang akor lagu yang dulu
khidmat kita lantun
ketika hati terbakar cemburu, aku ngelindur
tak lama aku buka google dan gigapedia
lalu kutulis di sana sejumlah kata arkais
yang kita lupa dari sejarah perjumpaan yang kahat,
dan kutemukan sebuah buku tanpa nama kita.
Label:
air sunyi,
inside my head,
puisi
| Reaction: |
8.15.2011
Sepi untuk Rina
Dan ketika pagi mencubit pelupuk
lewat jendela tak berwarna, aku terbangun,
dengan mata lima watt, lengket menatap
seseorang di dalam cermin
yang enggan tersenyum
usai membaca nasib
di bulatan embun terakhir:
angin dan senyap menggumpal di nadiku, nadimu.
lewat jendela tak berwarna, aku terbangun,
dengan mata lima watt, lengket menatap
seseorang di dalam cermin
yang enggan tersenyum
usai membaca nasib
di bulatan embun terakhir:
angin dan senyap menggumpal di nadiku, nadimu.
Label:
air sunyi,
inside my head,
puisi
| Reaction: |
1.01.2011
CAKA
Aku tertunduk lesu
Langit bermesiu
Tawa renyah kami
Meletus pada ratusan juta kembang api
Mengubur jerit:
Tangis lapar bayi-bayi di pagi hari,
Gigil menggeretak gigi segerombolan tuna wisma
di sepanjang jalan menuju Braga,
Serta perih dingin binar mata
seorang bocah di Palestina yang riang gembira
menganggap rudal-rudal yang membelah langit Gaza
sebagai kembang api mereka.
Langit bermesiu
Tawa renyah kami
Meletus pada ratusan juta kembang api
Mengubur jerit:
Tangis lapar bayi-bayi di pagi hari,
Gigil menggeretak gigi segerombolan tuna wisma
di sepanjang jalan menuju Braga,
Serta perih dingin binar mata
seorang bocah di Palestina yang riang gembira
menganggap rudal-rudal yang membelah langit Gaza
sebagai kembang api mereka.
Label:
akar jiwa,
inside my head,
puisi
| Reaction: |
12.10.2010
NISBI
Tangis dan tawa terlantun
Pujian menyambut dan meng-adzani telinga:
Anak haram itu lahir.
Dari jauh terdengar pancuran gemericik
Tak mengerti benar namun mengukur
Yang kecil lewat perantaraan yang besar
Yang hitam lewat perantaraan yang putih
Yang gaib tak dirasa, dilupa
Lelaguan dikawinkan dengan perih
Janda-janda menari dengan topengnya;
Sementara yang perawan berkemul sepi,
Yang terenggut mau mati tapi takut dosa
Teringat dandang gula Gatolotjo
Lalu membuka kembali qurannya.
Pujian menyambut dan meng-adzani telinga:
Anak haram itu lahir.
Dari jauh terdengar pancuran gemericik
Tak mengerti benar namun mengukur
Yang kecil lewat perantaraan yang besar
Yang hitam lewat perantaraan yang putih
Yang gaib tak dirasa, dilupa
Lelaguan dikawinkan dengan perih
Janda-janda menari dengan topengnya;
Sementara yang perawan berkemul sepi,
Yang terenggut mau mati tapi takut dosa
Teringat dandang gula Gatolotjo
Lalu membuka kembali qurannya.
Label:
akar jiwa,
inside my head,
puisi
| Reaction: |
Langgan:
Entri (Atom)




