(kepada para guru)
Sebelum senja datang,
ceritakan kisahmu
pada embun-embun yang baru menetas
di ujung dedaunan
ceritakan bagaimana kau mengintip
betapa kerdilnya kami tanpa berucap,
ceritakan betapa kami berpeluh
dan melenguh dan tak siap menelanjangi diri
dan kau tetap mengurut peristiwa
hari ke hari tanpa berkata apa-apa.
Sebelum senja datang,
ceritakanlah kisahmu
sedikit saja
pada pelangi yang tergaris
menggantung kaki iblis
di atap rumah kami
ceritakanlah dan jangan malu
tentang hujan yang membuat kami
melupakan engkau
dan kerut wajahmu.
Sebelum senja datang
dan membuat kami malu berlagu,
sebelum malam menyanjung bulan
ceritakan bagaimana engkau sembunyi
lari menjauh tapi tak pergi.
11.24.2009
11.08.2009
JAM
kamu tanya:
knapa kamu cinta aku?
aku jawab:
aku gak tau knapa...
just flowin'...
kayak aliran melodi pas lagi jammin'...
kadang aku salah pencet nada
dan kupingmu (pasti) sakit mendengarnya
tapi asal kamu tahu
jariku berdarah di saat-saat seperti itu
dan aku tetap berusaha main
supaya aliran melodi itu tetap ada.
knapa kamu cinta aku?
aku jawab:
aku gak tau knapa...
just flowin'...
kayak aliran melodi pas lagi jammin'...
kadang aku salah pencet nada
dan kupingmu (pasti) sakit mendengarnya
tapi asal kamu tahu
jariku berdarah di saat-saat seperti itu
dan aku tetap berusaha main
supaya aliran melodi itu tetap ada.
Label:
inside my head,
puisi,
RefLecTion
| Reaction: |
SSSHHHHH!!
yang kudengar kemudian
hanya desis api meretih
merambati malam lewat serangkum senyum,
kayu dan daunan kering
menahbiskan gamang gemintang
akan datangnya pagi.
hanya desis api meretih
merambati malam lewat serangkum senyum,
kayu dan daunan kering
menahbiskan gamang gemintang
akan datangnya pagi.
Label:
inside my head,
puisi,
RefLecTion
| Reaction: |
GELAYUT
(untuk "si pohon cemara")
masih bolehkah
menampi rindu yang bergelayut
di ujung dedaun sajakmu
usai dibacakan angin kepada bulan
yang kian sayu
pucat diparut waktu.
masih bolehkah
menampi rindu yang bergelayut
di ujung dedaun sajakmu
usai dibacakan angin kepada bulan
yang kian sayu
pucat diparut waktu.
Label:
inside my head,
puisi,
RefLecTion
| Reaction: |
10.20.2009
KHULDI
Cinta,
nanti akan kubawakan lagi buah khuldi itu untukmu
tapi jangan sampai Tuhan tahu
dan kalau Dia tanya di mana aku saat buah-buah itu hilang
bilang saja aku seharian tidur di hatimu.
nanti akan kubawakan lagi buah khuldi itu untukmu
tapi jangan sampai Tuhan tahu
dan kalau Dia tanya di mana aku saat buah-buah itu hilang
bilang saja aku seharian tidur di hatimu.
Label:
inside my head,
puisi,
RefLecTion
| Reaction: |
10.06.2009
(buat Rahma)
kamu tahu bagaimana Chairil mati?
tertimbun ribuan puisi yang dibuatnya sendiri
untuk seorang perempuan yang gagal ia kawin
mungkin akan begitu juga nasibku
jika tak segera memuntahkan kata
yang membuatku tersedak usai berbincang
denganmu: cinta.
kamu tahu bagaimana Chairil mati?
tertimbun ribuan puisi yang dibuatnya sendiri
untuk seorang perempuan yang gagal ia kawin
mungkin akan begitu juga nasibku
jika tak segera memuntahkan kata
yang membuatku tersedak usai berbincang
denganmu: cinta.
Label:
inside my head,
puisi,
RefLecTion
| Reaction: |
9.07.2009
O
Im a hero in your dreams and Youre a demon in my songs.
Label:
inside my head,
puisi,
RefLecTion
| Reaction: |
8.21.2009
SEMILIR
Tidak kupilih nama-Mu di antara daun yang gugur karena daun-daun itu bilang mereka rela dibawa angin kemanapun bahkan jika memang harus sampai ke lubang-cacing-penuh-misteri-Mu itu atas nama cinta, bukan karena Pencipta cinta itu sendiri.
Lalu jauh kutinggalkan mereka sudah. Dan bagai kukang aku bergerak lambat dalam pohon imanku yang rapuh. Menuju ke yang paling menggoyahkan hingga aku bisa lompat bebas menceburkan diri ke dalam liar imajinasiku lalu bergerak cepat tak menentu. Tak tahu arah; meski aku tak tahu kemana harus memisahkan diri dari-Mu.
Hingga lunglai, merasa banal dan kecewa sendiri. Dan aku membunuh jiwaku di hari raya itu demi Engkau, bukan daun-daun yang berguguran itu. Mati tercenung tak mengerti Engkau ternyata tak terpisah dari semua itu.
Lalu jauh kutinggalkan mereka sudah. Dan bagai kukang aku bergerak lambat dalam pohon imanku yang rapuh. Menuju ke yang paling menggoyahkan hingga aku bisa lompat bebas menceburkan diri ke dalam liar imajinasiku lalu bergerak cepat tak menentu. Tak tahu arah; meski aku tak tahu kemana harus memisahkan diri dari-Mu.
Hingga lunglai, merasa banal dan kecewa sendiri. Dan aku membunuh jiwaku di hari raya itu demi Engkau, bukan daun-daun yang berguguran itu. Mati tercenung tak mengerti Engkau ternyata tak terpisah dari semua itu.
Label:
inside my head,
puisi,
untuk Tuhan
| Reaction: |
NAFSU
kita menghamba pada gejolak di dalam dada, lalu tersenyum dan berseru: ah, tuhanku yang satu ini memang luar biasa!
Label:
inside my head,
puisi,
untuk Tuhan
| Reaction: |
8.10.2009
Langgan:
Entri (Atom)
.jpg)


